Kamis, 10 Oktober 2013

Psikologi Olahraga dan Peranan Olahraga bagi Perkembangan Fisik dan Psikis Anak-anak



ABSTRAKSI

            Telah dilakukan kajian mengenai psikologi olahraga dan peranan olahraga bagi perkembangan fisik dan psikis anak-anak. Kajian bertujuan untuk mengetahui lebih lanjut mengenai psikologi olahraga dan manfaat berolahraga bagi anak-anak.
            Psikologi olahraga adalah ilmu yang mempelajari mengenai proses mental dan kejiwaan seseorang berkaitan dengan aktifitas olahraga yang dijalaninya. Psikologi olahraga di Indonesia masih luas cakupannya dan perlu untuk dikembangkan lebih lanjut. Olahraga bagi anak memiliki dampak positif baik perkembangan fisik maupun psikis. Anak yang teratur berolahraga akan berkembang dengan baik sesuai dengan umur serta akan tumbuh menjadi pribadi yang bermental kuat. Ada beberapa tahapan latihan fisik yang bisa diterapkan untuk anak-anak sesuai dengan tahapan umurnya.
            Psikologi olahraga ternyata memiliki peran penting untuk menjaga keseimbangan antara kesehatan jasmani dan rohani seseorang. Dan berolahraga ternyata terbukti memberikan dampak positif yang mendukung perkembangan fisik serta psikis anak-anak.

Kata kunci : psikologi olahraga, manfaat olahraga, ksehatan jasmani dan rohani















I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kemajuan teknologi yang semakin pesat dewasa ini, telah mempengaruhi dunia di segala bidang. Persaingan dirasa semakin ketat di mana masyarakat berlomba-lomba untuk mencari celah keuntungan demi menghidupi keluarganya. Oleh karena itu, tak jarang kita temui orangtua yang sibuk bekerja sepanjang hari dan mempercayakan perawatan anak sepenuhnya kepada para pembantu. Kesibukan orangtua membuat anak-anak cenderung pasif dengan bermain game atau playstation di rumah daripada aktif secara fisik atau berolahraga di luar rumah.
Berbagai penelitian telah menyebutkan bahwa olahraga bagi anak-anak sangat penting untuk dilakukan karena dapat menunjang pertumbuhan serta perkembangan anak. Sementara gaya hidup yang pasif atau kurang gerak, kurang latihan otot berisiko tinggi terserang penyakit metabolisme seperti obesitas dan diabetes serta penyakit degenerasi seperti osteoporosis dan jantung koroner.
Untuk itu makalah ini akan membahas mengenai manfaat olahraga bagi perkembangan secara fisik maupun psikis. Sesuai arah tema, batasan pembahasan dalam makalah ini adalah olahraga untuk anak-anak.
B. Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan psikologi olahraga?
2.      Apa manfaat olahraga bagi anak-anak secara fisik?
3.      Apa manfaat olahraga bagi anak-anak secara psikis?
4.      Olahraga jenis apakah yang cocok untuk diterapkan pada anak-anak?
C. Tujuan
1.      Untuk mengetahui maksud psikologi olahraga.
2.      Untuk mengetahui manfaat olahraga bagi anak-anak secara fisik.
3.      Untuk mengetahui manfaat olahraga bagi anak-anak secara psikis.
4.      Untuk mengetahui olahraga jenis apa saja yang cocok diterapkan pada anak-anak.

II. ISI

A. Pengertian Anak, Perkembangan Fisik dan Psikis serta Psikologi
Pengertian anak dapat ditinjau dari dua sisi, yaitu anak sebagai fenomena biologis (psikologis) serta anak sebagai fenomena sosial (legal). Anak sebagai fenomena biologis dipresepsikan sebagai manusia yang masih berada dalam tahap perkembangan yang belum mencapai tingkat yang utuh. Kondisi fisik, organ reproduktif, kemampuan motorik, kemampuan mental dan psiko-sosialnya dianggap masih belum selesai. Sebagai fenomena sosial (dan legal), anak, karena tingkat perkembangan mental dan psikososialnya, dianggap tidak mempunyai kapasitas untuk melakukan tindak sosial (legal) tertentu (Mohammad Farid, 1999)
Memahami anak dari perspektif biologis (dan psikologis), kategori anak biasa di sub-klasifikasikan kedalam beberapa tingkat perkembangan seperti masa bayi, balita, kanak-kanak, remaja awal, remaja akhir, dst. Namun sebagai fenomena sosial (legal), sub-klasifikasi seperti itu tidak dikenal. Dalam perspektif legal, anak merupakan satu fenomena tunggal. Dalam hal ini anak hanya dipertentangkan dengan orang dewasa yang dianggap sudah sepenuhnya mampu melakukan tindakan (legal) tertentu. Perbedaan antara anak dan orang dewasa biasanya dipatok dengan batas umur tertentu.
Batasan umur anak sesuai dengan piagam PBB yang juga telah disahkan oleh UU PA pasal 22, ialah kurang dari 18 tahun.
Sedangkan physics atau fisik bisa diartikan sesuatu yang berkaitan dengan badan, raga. Perkembangan fisik berarti pertambahan volume dan ukuran sel-sel penyusun tubuh secara bertahap dan berkesinambungan serta bersifat irreversible (tidak dapat balik) Perkembangan fisik merupakan perkembangan secara kuantitas, oleh karena itu bisa dipantau dari aktivitas badan, pertambahan tinggi badan serta pertambahan berat badan sesuai dengan umurnya. Sebagai contoh : tahapan bayi berusia 5 bulan sudah mulai bisa tengkurap, tahapan balita berusia 4 tahun rata-rata memiliki berat ideal 15 kg, dst.
Psikis berarti sesuatu yang berhubungan dengan kondisi mental atau kejiwaan seseorang. Sedang ilmu yang mempelajari mengenai gejala dan kegiatan jiwa proses mental, baik normal maupun abnormal dan pengaruhnya pada perilaku seseorang adalah psikologi. Perkembangan psikis dapat diartikan sebagai proses pematangan cara berpikir, memahami sesuatu dan pendewasaan individu. Perkembangan psikis merupakan perkembangan secara kualitatif oleh karena itu tidak dapat diukur secara materiil namun dapat diukur secara immateriil. Sebenarnya, tidak ada tahapan secara jelas mengenai perkembangan psikis ini karena satu individu dengan individu lain memiliki cara dan waktu yang berbeda dalam mencapai perkembangan psikis optimalnya.

B. Psikologi Olahraga
      Mengacu pada penjelasan di subbab sebelumnya, psikologi olahraga bisa diartikan sebagai ilmu yang mempelajari proses mental atau kejiwaan dalam kaitannya dengan aktivitas berolahraga. Untuk lebih jelasnya, kita dapat melihat teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli mengenai psikologi olahraga berikut ini.
 Weinberg dan Gould (1995) memberikan pandangan yang hampir serupa atas psikologi olahraga dan psikologi latihan (exercise psychology), karena banyak kesamaan dalam pendekatannya, namun beberapa peneliti lain (Anshel, 1997; Seraganian, 1993; Willis & Campbell, 1992) secara lebih tegas membedakan psikologi olahraga dengan psikologi latihan.
Weinberg dan Gould, (1995) mengemukakan bahwa psikologi olahraga dan psikologi latihan memiliki dua tujuan dasar: mempelajari bagaimana faktor psikologi mempengaruhi performance fisik individu memahami bagaimana partisipasi dalam olahraga dan latihan mempengaruhi perkembangan individu termasuk kesehatan dan kesejahteraan hidupnya.
Di samping itu, mereka mengemukakan bahwa psikologi olahraga secara spesifik diarahkan untuk: membantu para professional dalam membantu atlet bintang mencapai prestasi puncak, membantu anak-anak, penderita cacat dan orang tua untuk bisa hidup lebih bugar, meneliti faktor psikologis dalam kegiatan latihan dan memanfaatkan kegiatan latihan sebagai alat terapi, misalnya untuk terapi depressi (Weinberg & Gould, 1995).
Sekalipun belum begitu jelas letak perbedaannya, Weiberg dan Gould (1995) telah berupaya untuk menjelaskan bahwa psikologi olahraga tidak sama dengan psikologi latihan. Namun dalam prakteknya biasanya memang terjadi saling mengisi, dan kaitan keduanya demikian eratnya sehingga menjadi sulit untuk dipisahkan. Tetapi Seraganian (1993) serta Willis dan Campbell (1992) secara lebih tegas mengemukakan bahwa secara tradisional penelitian dan praktik psikologi olahraga diarahkan pada hubungan psikofisiologis misalnya responsi somatik mempengaruhi kognisi, emosi dan performance. Sedangkan psikologi latihan diarahkan pada aspek kognitif, situasional dan psikofisiologis yang mempengaruhi perilaku pelakunya, bukan mengkaji performance olahraga seorang atlet. Adapun topik dalam psikologi latihan misalnya mencakup dampak aktivitas fisik terhadap emosi pelaku serta kecenderungan (disposisi) psikologi, alasan untuk ikut serta atau menghentikan kegiatan latihan olahraga, perubahan pribadi sebagai dampak perbaikan kondisi tubuh atas hasil latihan olahraga dan lain sebagainya (Anshel, 1997).
Jelaslah kini bahwa psikologi olahraga lebih diarahkan para kemampuan prestatif pelakunya yang bersifat kompetitif; artinya, pelaku olahraga, khususnya atlet, mengarahkan kegiatannya olahraganya untuk mencapai prestasi tertentu dalam berkompetisi, misalnya untuk menang. Sedangkan psikologi latihan lebih terarah pada upaya membahas masalah-masalah dampak aktivitas latihan olahraga terhadap kehidupan pribadi pelakunya. Dengan kata lain, psikologi olahraga lebih terarah pada aspek sosial dengan keberadaan lawan tanding, sedangkan psikologi latihan lebih terarah pada aspek individual dalam upaya memperbaiki kesejahteraan psikofisik pelakunya.
Sekalipun demikian, kedua bidang ini demikian sulit untuk dipisahkan, karena individu berada di dalam konteks sosial dan sosial terbentuk karena adanya individu-individu. Di samping itu kedua bidang ini melibatkan aspek psikofisik dengan aktivitas aktivitas yang serupa, dan mungkin hanya berbeda intensitasnya saja karena adanya faktor kompetisi dalam olahraga.
Untuk lingkup yang lebih sempit, psikologi olahraga anak berbatas pada macam olahraga yang tersedia bagi kebutuhan anak-anak. Bahkan psikologi olahraga anak di Indonesia belum berkembang secara pesat bila dibandingkan dengan psikologi olahraga dewasa atau umum. Hal ini mungkin disebabkan oleh belum munculnya minat sungguh-sungguh anak untuk menjadi pelakon olahraga pada anak-anak. Ada banyak faktor yang mempengaruhi fenomena ini. Seperti anggapan bahwa menjadi atlet itu susah pada masa tuanya, ketakutan untuk menjalani latihan disiplin atlet, dll.

C. Peranan Olahraga bagi Perkembangan Fisik Anak-anak
Secara umum, berolahraga memberikan peluang bagi anak untuk mengembangkan kemampuan motoriknya. Membiasakan anak-anak untuk berolahraga secara rutin akan memberikan banyak dampak positif bagi perkembangan fisik anak. Karena selain memberikannya contoh baik yang akan dibawa hingga dewasa nanti, latihan fisik sejak balita bermanfaat untuk pertumbuhan dan kepadatan tulang, paru-paru, otot, keseimbangan, koordinasi, kelenturan, kekuatan, ketahanan otot dan komposisi tubuh pada anak.
Karena sistem metabolisme lancar, secara tidak langsung, olahraga juga turut mengaktifkan kerja sistem kekebalan tubuh. Sel-sel antibodi akan siap terbentuk sehingga anak tidak mudah terserang infeksi bakteri maupun virus.
Pada dasarnya, latihan fisik untuk anak harus seimbang dan meliputi beberapa jenis latihan. Sebagai contoh, latihan aerobik untuk melatih sistem jantung dan paru, latihan beban untuk menngkatkan kekuatan dan daya tahan otot, latihan fleksibilitas untuk meningkatkan kelenturan sendi serta latihan keseimbangan dan koordinasi untuk kemampuan mengintegrasikan mata, tangan dan kaki secara efektif.
Contoh lain, latihan berenang akan merangsang pertumbuhan tinggi badan. Gerakan-gerakan yang terdapat pada olahraga berenang memang ditujukan untuk menguatkan, mengulur otot, memaksimalkan kapasitas paru-paru serta membentuk tubuh yang sesuai anatominya. Sehingga penyakit asma dan kelainan-kelainan tulang belakang seperti skoliosis, lordosis atau kifosis dapat dihindari.
Tahapan awal untuk latihan fisik anak ialah melatih gerakan-gerakan dasar seperti jalan, lari, lompat, meluncur dan merangkak. Kemudian dilanjutkan dengan melatih gerakan-gerakan ketangkasan atau ketrampilan dasar seperti melempar, menangkap dan menendang. Yang perlu diperhatikan adalah penyesuaian jenis latihan dengan tahapan umur.
Setelah anak mencapai usia tertentu yang memungkinkannya untuk mengkombinasikan semua tahapan awal latihan di atas, sang anak mulai dapat diperkenalkan dengan jenis olahraga terstruktur. Olahraga terstruktur adalah jenis permainan olahraga yang memiliki aturan-aturan khusus yang harus ditaati oleh pemain. Misal, badminton, kasti, sepakbola, basket, dll.
Sedangkan frekuensi latihan untuk anak yang disarankan ialah sekitar 2-3 kali seminggu. Namun disarankan agar anak tidak melakukan kegiatan fisik tersebut pada hari yang berurutan. Mungkin sang anak juga bisa menjadi anggota suatu klub olahraga yang disenanginya. Jangan memaksakan atau memforsir anak mengikuti suatu klub olahraga jika memang tidak mau. Prinsip fun dalam olahraga seyogyanya benar-benar bisa dihayati oleh anak. Karena kalau tidak, hanya akan menjadi beban bagi anak-anak.

D. Peranan Olahraga bagi Perkembangan Psikis Anak-anak
Olahraga sejak dini secara umum dapat melatih interaksi sosial, sikap mental dan perilaku yang baik seperti disiplin, percaya diri, sportivitas dan kerjasama anak. Permainan-permainan yang terdapat pada olahraga mengajarkan hal-hal tersebut.
Permainan tunggal seperti badminton tunggal atau tenis tunggal dimana anak diharuskan untuk bermain sendirian, tidak ada partner atau tim yang membantu dalam pertandingan, melatih anak untuk bermental kuat: mandiri, percaya pada diri sendiri, berani serta tidak mudah menyerah. Di dalam setiap pertandingan anak-anak juga diajarkan untuk fokus pada suatu tujuan demi memenangkan pertandingan. Nalar anak juga sedikit demi sedikit akan berkembang untuk mencermati setiap peluang dan menganalisisnya dengan baik. Namun, jika suatu waktu sang anak harus mengalami kekalahan, ia akan belajar menerima kegagalan tersebut. Tidak dengan menangis tapi dengan menjadikannya suatu pembelajaran, introspeksi diri yang akan memperkaya pengetahuannya.
Sementara permainan jenis beregu akan memberi dampak psikis pada anak seperti interaksi sosial yang baik. Interaksi sosial yang baik ditandai dengan baiknya komunikasi anak atau anak tidak kesulitan dalam mengemukakan pendapat pribadinya. Daya analisis anak juga akan meningkat mengingat banyaknya pemain dalam satu tim. Jika dalam permainan tunggal seorang anak cukup menganalisis kemampuan dirinya sendiri serta lawan tandingnya, maka dalam permainan beregu seorang anak harus menganalisis kemampuan dirinya sendiri beserta anggota tim dan tim lawan. Demi satu tujuan yaitu, memenangkan pertandingan dalam permainan beregu sang anak mau tidak mau juga harus belajar untuk bekerjasama serta toleransi terhadap teman satu tim. Rasa egois yang mungkin terdapat pada anak perlahan akan hilang digantikan oleh rasa kebersamaan.
Melalui olahraga beregu, seorang anak juga belajar untuk berperan aktif untuk memberikan kontribusi sosial bagi kelompoknya. Di samping itu, dalam permainan olahraga anak juga belajar menjalankan perannya, baik yang berkaitan dengan jender (jenis kelamin) maupun yang berkaitan dengan peran dalam kelompok bermainnya. Misalnya dalam permainan sepakbola, ada yang berperan sebagai kapten yang bertugas memimpin anggota lain, sedang yang lain menjalankan peran sebagai pendukung. Dalam hubungannya dengan jender, anak-anak melakukan permainan stereotype sesuai dengan budaya dan masyarakat setempat. Misalnya, anak-anak perempuan gemar berolahraga senam atau berenang sementara anak laki-laki berolahraga sepakbola atau basket.
E. Jenis Olahraga yang Cocok untuk Diterapkan pada Anak Usia Tertentu
1.      Umur 2-3 tahun.
Olahraga yang sifatnya belum terstruktur, seperti berlari, berayun-ayun, memanjat, dan bermain air. Pada usia 2 tahun, anak sudah mampu melompat dengan satu atau kedua kaki, dan berlari. Pada usia 3 tahun, ia sudah bisa berubah-ubah arah (dari kanan ke kiri, dari depan ke belakang) dengan mudah. Umumnya, anak belum siap untuk bergabung ke dalam olahraga yang berstruktur atau terlibat dalam aktivitas yang sarat kompetisi.
2.      Umur 4-5 tahun.
Biasanya, anak sudah bisa menggelindingkan bola besar, menangkap bola serta piawai dengan sepeda roda tiga. Ia juga mulai suka berenang atau bersenam (tanpa diprogram).
3.      Umur 5-6 tahun
Banyak ketrampilan yang sudah dikuasai oleh anak , termasuk baris-berbaris, latihan keseimbangan (berjalan di atas titian balok), memanjat, berayun, bergelantungan, berguling, berputar, dll.
4.      Umur 6 tahun ke atas
Anak seusia ini, sudah dapat menggabungkan kemampuan-kemampuan motorik dasar meski belum sempurna. Olahraga terstruktur seperti badminton, basket, bisa mulai dikenalkan.







III. Penutup

Dari pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa psikologi olahraga di Indonesia belum begitu berkembang dan masih luas cakupannya sehingga dirasa kurang efektif. Oleh karena itu, perlu dikembangkan lagi psikologi olahraga sehingga bidang olahraga di Indonesia bisa lebih maju lagi. Selain itu, diketahui pula bahwa olahraga memiliki peranan penting untuk perkembangan fisik serta psikis anak-anak. Dan untuk lebih mengoptimalkan potensi, beberapa jenis olahraga dpat diterapkan untuk anak-anak usia tertentu.


DAFTAR PUSTAKA










Tidak ada komentar:

Poskan Komentar