Jumat, 12 September 2014

KEPEMIMPINAN YANG IDEAL DI LINGKUNGAN PENDIDIKAN



KEPEMIMPINAN YANG IDEAL  DI LINGKUNGAN PENDIDIKAN
Oleh: Aris Priyanto*)
Lembaga pendidikan merupakan sebuah wahana untuk pengembangan diri  seseorang untuk menjadi lebih baik. Seorang pemimpin lembaga pendidikan dituntut agar memiliki kemampuan menggerakkan personel satuan pendidikan atau sekolah dalam melaksanakan tugas pembelajaran sesuai prinsip-prinsi pedagogik. Karena kepemimpinan adalah suatu kemampuan mempengaruhi kelompok ke arah pencapaian tujuan. (Sudarwan, 2008: 211)

Pengertian kepemimpinan
Menurut Robbins dalam Wahab dan Umiarso (2010: 60), kepemimpinan adalah kemampuan mempengarungi kelompok kearah pencapaian tujuan. Owens mendefinisikan kepemimpinan sebagai suatu interaksi antara satu pihak sebagai yang memimpin dengan pihak yang dipimpin. Sedangkan James Lipham, seperti yang diikuti oleh M. Ngalim Purwanto, mendefinisikan kepemimpinan adalah permulaan dari suatu struktur atau prosedur baru untuk mencapai tujuan-tujuan dan sasaran organisasi atau untuk mengubah tujuan-tujuan dan sasaran-sasaran organisasi. Menurut Josep C. Rost dalam Triantoro (2004: 3), kepemimpinan adalah sebuah hubungan yang saling mempengaruhi diantara pemimpin dan pengikut (bawahan/mitra kerja) yang menginginkan perubahan nyata yang mencerminkan tujuan bersama.
Dari beberapa definisi kepemimpinan tersebut dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah suatu kegiatan mempengaruhi orang lain agar orang tersebut mau bekerja sama (mengkolaborasi dan mengelaborasi potensinya) untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kepemimpinan juga sering dikenal sebagai kemampuan untuk memperoleh konsenseus anggota organisasi untuk melakukan tugas manajemen agar tujuan organisasi tercapai.
       Peranan kepemimpinan.
 Kepemimpinan adalah fondasi terpenting dalam sebuah organisasi. Kepemimpinan berbicara tentang bagaimana seseorang dapat mempengaruhi dan menginspirasi orang lain dan bagaimana seseorang bisa membuat orang lain mau belajar dan bekerja ekstra dengan ikhlas.
Banyak orang mengatakan kemampuan memimpin berhubungan dengan bakat, tetapi kepemimpinan adalah keterampilan yang perlu dilatih bukan hanya dipelajari ilmu dan teorinya. Seorang pemimpin berbeda dengan manajer meskipun keduanya sama-sama memahami bisnis organisasinya dengan baik.   Seorang pemimpin bertanggung jawab dalam menciptakan visi organisasi, konsep bisnis, rencana serta program target untuk mencapai organisasi sementara manajer bertanggung jawab dalam penerapan dan pencapaiannnya.
 Ada pebedaan mendasar antara pemimpin dan manajer seperti yang sering kita dengar manager “does thing right, a leader does the right things” manajer membuat pekerjaan menjadi efisien sedangkan pemimpin membuat pekerjaan menjadi efektif.
Manajemen berbicara bagaimana sedangkan kepemimpinan berbicara tentang apa dan mengapa kepemimpin melakukan inovasi sementara manjemen menerapkan aturan manajemen berhubungan dengan sistem, kontrol, prosedur, struktur serta kebijakan sedangkan kepemimpinan berbicara tentang manusia dan kepercayaan. Kepemimpinan bersifat kreatif, adaptif dan berhubungan dengan ketangkasan. Kepemimpinan  melihat jauh ke depan dan dari luar organisasi, bukan hanya permukaan dan di dalam organisasi. Secara singkat, ada lima peranan penting seorang mimpin yaitu:
  1. Menciptakan visi
Seorang pemimpin bertugas membuat visi untuk organisasinya.Visi harus bisa
menyatukan kepentingan yang berbeda-beda, sehingga dapat memudahkan proses pengambilan keputusan dalam organisasi. Visi akan membantu pemimpin  dan anggotanya dalam menghadapi tantangan dalam organisasi.
  1. Membangun anggota
            Seorang pemimpin harus dapat memilih orang-orang yang tepat untuk mengisi
posisi yang tepat agar tidak sampai salah memilih anggota, tidak ada salahnya jika pemimpin meluangkan waktu untuk mewawancarai  calon karyawan yang akan di rekrutnya.
  1. Mengalokasikan tugas
            Pemimpin yang baik dapat menganalisa anggota timnya dan menempatkan orang
yang mumpuni  pada posisi yang tepat sesuai dengan kompetensinya. Pemimpin yang baik akan mengalokasikan tugas bagi anggotanya sesuai dengan keahlian dan minat mereka masing-masing.
  1. Mengembangkan orang
Perubahan jaman, jika dulu banyak orang yang setia bekerja di suatu tempat selama bertahun-tahun. Tetapi sekarang banyak orang yang tidak ragu untuk pindah dan mencari pekerjaan baru  karena merasa tidak bisa berkembang jika tetap bekerja di suatu tempat. Seorang pemimpin harus memahami hal tersebut dan ia harus pandai membaca potensi orang-orang yang akan dipimpinnnya, serta mengembankan kemampuan dan nilai mereka.
  1. Memotivasi anak buah
 Anggota tim yang bersemangat adalah kekuatan bagi organisasi yang
sehat.Untuk menjaga semangat anggota tim, pemimpin harus dapat menginspirasi dan memotivasi anak buahnya. Jika anggota  bersemangat pasti mau bekerja keras dan berusaha maksimal demi mencapai target dan kesuksesan organisasi.



Tipe-Tipe Kepemimpinan
               Dalam setiap realitasnya bahwa pemimpin dalam melaksanakan proses kepemimpinannya terjadi adanya suatu permbedaan antara pemimpin yang satu dengan yang lainnya, hal ini sebagaimana menurut G. R. Terry yang dikutif Maman Ukas, bahwa pendapatnya membagi tipe-tipe kepemimpinan menjadi enam, yaitu :
1.    Tipe kepemimpinan pribadi (personal leadership). Dalam system kepemimpinan
ini, segala sesuatu tindakan itu dilakukan dengan mengadakan kontak pribadi. Petunjuk itu dilakukan secara lisan atau langsung dilakukan secara pribadi oleh pemimpin yang bersangkutan.
2.    Tipe kepemimpinan non pribadi (non personal leadership). Segala sesuatu
kebijaksanaan yang dilaksanakan melalui bawahan-bawahan atau media non pribadi baik rencana atau perintah juga pengawasan.
3.    Tipe kepemimpinan otoriter (autoritotian leadership). Pemimpin otoriter biasanya bekerja
keras, sungguh-sungguh, teliti dan tertib. Ia bekerja menurut peraturan-peraturan yang berlaku secara ketat dan instruksi-instruksinya harus ditaati.
4.    Tipe kepemimpinan demokratis (democratis leadership). Pemimpin yang
demokratis menganggap dirinya sebagai bagian dari kelompoknya dan bersama-sama dengan kelompoknya berusaha bertanggung jawab tentang terlaksananya tujuan bersama. Agar setiap anggota turut bertanggung jawab, maka seluruh anggota ikut serta dalam segala kegiatan, perencanaan, penyelenggaraan, pengawasan, dan penilaian. Setiap anggota dianggap sebagai potensi yang berharga dalam usahan pencapaian tujuan.
5.    Tipe kepemimpinan paternalistis (paternalistis leadership). Kepemimpinan ini dicirikan oleh
suatu pengaruh yang bersifat kebapakan dalam hubungan pemimpin dan kelompok. Tujuannya adalah untuk melindungi dan untuk memberikan arah seperti halnya seorang bapak kepada anaknya.
6.    Tipe kepemimpinan menurut bakat (indogenious leadership). Biasanya timbul dari
kelompok orang-orang yang informal di mana mungkin mereka berlatih dengan adanya system kompetisi, sehingga bisa menimbulkan klik-klik dari kelompok yang bersangkutan dan biasanya akan muncul pemimpin yang mempunyai kelemahan di antara yang ada dalam kelempok tersebut menurut bidang keahliannya di mana ia ikur berkecimpung.
Selanjutnya menurut Kurt Lewin yang dikutip oleh Maman Ukas mengemukakan tipe-tipe kepemimpinan menjadi tiga bagian, yaitu :
1.    Otokratis, pemimpin yang demikian bekerja kerang, sungguh-sungguh, teliti dan tertib. Ia bekerja menurut peraturan yang berlaku dengan ketat dan instruksi-instruksinya harus ditaati.


2.    Demokratis, pemimpin yang demokratis menganggap dirinya sebagai bagian dari
kelompoknya dan bersama-sama dengan kelompoknya berusaha bertanggung jawab tentang pelaksanaan tujuannya. Agar setiap anggota turut serta dalam setiap kegiatan-kegiatan, perencanaan, penyelenggaraan, pengawasan dan penilaian. Setiap anggota dianggap sebagai potensi yang berharga dalam usaha pencapaian tujuan yang diinginkan.
3.    Laissezfaire, pemimpin yang bertipe demikian, segera setelah tujuan diterangkan pada
bawahannya, untuk menyerahkan sepenuhnya pada para bawahannya untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Ia hanya akan menerima laporan-laporan hasilnya dengan tidak terlampau turut campur tangan atau tidak terlalu mau ambil inisiatif, semua pekerjaan itu tergantung pada inisiatif dan prakarsa dari para bawahannya, sehingga dengan demikian dianggap cukup dapat memberikan kesempatan pada para bawahannya bekerja bebas tanpa kekangan.
Berdasarkan dari pendapat tersebut di atas, bahwa pada kenyataannya tipe kepemimpinan yang otokratis, demokratis, dan laissezfaire, banyak diterapkan oleh para pemimpinnya di dalam berbagai macama organisasi, yang salah satunya adalah dalam bidang pendidikan. Dengan melihat hal tersebut, maka pemimpin di bidang pendidikan diharapkan memiliki tipe kepemimpinan yang sesuai dengan harapan atau tujuan, baik itu harapan dari bawahan, atau dari atasan yang lebih tinggi, posisinya, yang pada akhirnya gaya atau tipe kepemimpinan yang dipakai oleh para pemimpin, terutama dalam bidang pendidikan benar-benar mencerminkan sebagai seorang pemimpinan yang profesional.
Gaya Kepemimpinan
  Menurut Bill Woods ada tiga gaya kepemimpinan yaitu;
1.        Otokratis, yaitu pemimpin membuat keputusan sendiri karena kekuasaan terpusatkan dalam diri satu orang, ia memikul tanggung jawab dan wewenang penuh.
2.        Demokratis, yaitu pemimpin itu berkonsultasi dengan kelompok mengenai masalah yang
menarik perhatian mereka dimana mereka dapat menyumbangkan sesuatu.
3.        Kendali bebas, yaitu pemimpin memberi kekuasaan pada bawahan, kelompok dapat
mengembangkan sasaranya sendiri dan memecahkan masalahnya sendiri, pengarahannya tidak ada atau hanya sedikit.



Para peneliti  juga telah mengidentifikasikan dua gaya kepemimpinan dalam hubunganya dengan bawahan yaitu
1.     Gaya dengan orientasi tugas ( task-oriented)
Manajer berorientasi tugas mengarahkan dan mengawasi  bawahan secara tertutup untuk menjamin bahwa tugas dilaksanakan sesuai yang diinginkanya.
2.     Gaya dengan orientasi karyawan (employee-oriented)
Manajer berorientasi karyawan mencoba untuk  memotivasi bawahan
dibanding  mengawasi mereka.

Gaya kepemimpinan menurut Ki Hajar Dewantara, memperkenalkan semboyan sebagai nilai-nilai bangsa Indonesia yang dicetuskannya yaitu, Filosofi “Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani”. Perkembangan ilmu pengetahuan pada akhirnya menemukan bahwa terdapat kesesuaian antara filosofi tersebut dengan kepemimpinan yang ideal untuk bangsa Indonesia.
Ing ngarsa sung tuladha. Filosofi ini memiliki arti bahwa seseorang yang berada di garis depan atau seorang pemimpin, harus bisa memberi contoh kepada para anggotanya. Seorang leader akan dilihat oleh followernya sebagai panutan. Follower tidak hanya memperhatikan perilaku dari seorang leader secara pribadi, namun juga meliputi sejauh mana nilai-nilai budaya organisasi telah tertanam dalam diri leadernya, bagaimana cara leadernya dalam mengatasi masalah, sejauh mana leader berkomitmen terhadap organisasi, sampai kerelaan seorang leader untuk mengutamakan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadinya. Oleh karena itu, sepatutnya seorang leader memiliki karakteristik-karakteristik yang dapat menjadi teladan untuk para followernya. Leader yang memiliki charisma atau seorang pemimpin yang kharismatik akan lebih mudah menjalankan peran ini. Hal ini disebabkan oleh charisma mereka yang dapat menginspirasi para followernya.
Ing madya mangun karsa. Filosofi ini berarti bahwa seorang leader harus mampu menempatkan diri di tengah-tengah followernya sebagai pemberi semangat, motivasi, dan stimulus agar follower dapat mencapai kinerja yang lebih baik. Melalui filosofi ini, jelas bahwa seorang leader harus mampu mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan followernya. Terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan tersebut, akan memotivasi follower untuk memberikan yang terbaik bagi organisasi. Teori-teori motivasi memiliki peranan penting bagi seorang leader untuk mengaplikasikan peranan sesuai filosofi ke dua ini.
Tut wuri handayani. Filosofi yang terakhir ini memiliki makna bahwa seorang leader tidak hanya harus memberikan dorongan, namun juga memberikan arahan untuk kemajuan organisasi. Arahan di sini berarti leader harus mampu mengerahkan usaha-usaha followernya agar sejalan dengan visi, misi, dan strategi organisasi yang telah ditetapkan. Sebagai dasarnya, leader nilai-nilai organisasi harus tertanam kuat dalam diri masing-masing anggota.
Ketiga filosofi di atas saling berkaitan dan tidak dapat ditinggalkan salah satunya. Sebagai contoh, usaha seorang leader untuk menanamkan nilai-nilai organisasi kepada followernya. Dalam hal ini, seorang leader tidak bisa begitu saja mendorong dan mengarahkan perilaku followernya agar sesuai dengan nilai-nilai organisasi (tut wuri handayani). Namun, leader tersebut juga harus mampu memberikan contoh nyata bagaimana nilai-nilai organisasi telah tertanam dalam dirinya (ing ngarsa sung tuladha). Sembari memberi contoh, leader juga harus mengkomunikasikan nilai-nilai tersebut ke tengah-tengah followernya, dan memotivasi mereka untuk bertindak sejalan dengan nilai-nilai itu (ing madya mangun karsa).
Bila dilihat dari budaya bangsa menurut dimensi-dimensi Hofstede, akan ditemukan kesesuaian antara budaya kita, filosofi dari Ki Hajar Dewantara, dan gaya kepemimpinan yang diterapkan di Indonesia. Salah satu dimensi Hofstede, yaitu Power Distance Index (PDI) menunjukkan nilai yang tinggi pada budaya di Indonesia. Jarak kekuasaan yang tinggi mengindikasikan bahwa anggota-anggota dalam organisasi menerima adanya kekuasaan atau wewenang yang tidak didistribusikan secara merata. Nilai yang tinggi dalam dimensi ini berarti bahwa arahan dari leader merupakan sesuatu yang diinginkan dari para follower. Leader dituntut untuk bisa memberikan arahan dan pengawasan bagi para followernya. Hal ini kita jumpai pada salah satu filosofi di atas, yaitu tut wuri handayani.
Penerapan lain dari filosofi-filosofi tersebut dapat dilihat pada AXA Indonesia, suatu perusahaan yang bergerak di bidang asuransi. Perusahaan ini sukses meraih penghargaan sebagai “Perusahaan Ternyaman Pilihan Karyawan Nomor Satu di Indonesia” dalam ajang Employer of Choice di tahun 2010. AXA Indonesia unggul berkat komunikasi dua arah yang intensif dan terbuka. Komunikasi merupakan elemen penting bagi leader dalam memotivasi, memberikan semangat, dan ide untuk para follower. Hal ini sesuai dengan konsep filosofi “ing madya mangunkarsa”.
Beberapa uraian di atas menjelaskan kepemimpinan yang ideal bagi bangsa Indonesia, dilihat dari segi nilai-nilai asli budaya bangsa Indonesia. Belajar dari sejarah bangsa dapat membawa kita pada kesimpulan menarik mengenai berbagai hal. Salah satunya adalah dalam hal kepemimpinan. Sangat menarik mengetahui bahwa kepemimpinan yang ideal bagi bangsa ini bahkan telah ditemukan dan disusun sejak lama oleh Ki Hajar Dewantara melalui tiga filosofi singkatnya. Ing ngarsa sung tuladha. Ing madya mangun karsa. Tut wuri handayani.



Kepemimpinan Pendidikan Yang Efektif dalam Lembaga Pendidikan

Kepemimpinan pendidikan yang efektif memberikan dasar dan menempatkan tujuan pada posisi penting untuk merubah norma-norma dalam program pembelajaran, meninkatkan produktivitas, dan mengembangkan pendekatan-pendekatan kreaif untuk memperoleh hasil yang maksimal dari program institusi pendidikan. Menurut Campbell (1993) menegaskan bahwa pemimpin-pemimpin yang efektif menyususun tujuan-tujuan, sasaran-sasaran, mengatur standar-standar penampilan, menciptakan lingkungan kerja yang produktif, dan dapat dukungan yang dibutuhkan. (Internet:2014)
Faktor-Faktor Kepemimpinan Pendidikan Yang Efektif :
1.     Ketepatan dalam pengambilan keputusan.
Seorang pemimpin harus bisa mengambil keputusan dengan tepat dalam pengambilan keputusan oleh pemimpin pendidikan proses komunikasi itu terkandung nilai-nilai manusiawi yang secara psikologis dan pedagogis, dapat membawa pada kehidupan social yang tentram dan damai dengan rasa solidaritas social yang semakin kokoh. Menurut Mann (1975) pengambilan keputusan yang rasional dalam organisasi harus dilihat dari tujuan organisasi, sumberdaya yang ada, informasi yang lenkap tentang fungsi sitem kerja, pengalokasian sumber dna didasarkan pada prioritas, dan  harus memahami pengelolahan dana. Suatu keputusan dalam penyelenggaraan pedidikan  dikatakan sebagai keputusan yang baik, apabila keputusan tersebut tidak memuat alasan dan tidak perlu pula untuk diadakan kemungkinan untuk naik banding dalam bentuk apapun.karena itu pemimpin pendidikan harus cermat dalam pengambilan keputusan.

2.     Pendelegasian pembagian tugas dengan tepat.
Kepemimpinan pendidikan yang efektif  harus bisa mendelegasikan pembagian tugas atau pekerjaan dengan cara yang yang tepat yaitu sesuai dengan pembidangan organisasi. Pendelegasian adalah pelimpahan wewenang kepada seseorang atau lembaga yang menjadi tanggungjawabnya sesuai dengan ketentuan institusin yang berlaku. Meskipun tugas-tugas tersebut telah didelegasikan  kepada bawahannya, tetapi control dan tanggungjawab tetap ada pada pemimpin.adapun kualifikasi penerima wewenang berkenaan dengan aspek keahlian, posisi, dan perilakunya dengan mempertimbangkan secara jeklas penentuan formasi tugas, tanggungjawab, prosedur, prospek pengembangan dan pendayagunaannya diarahkan pada internaslisasi prinsip moral dan etika yang menjadi landasan terbangunnya akuntabilitas mereka sebagai pemberi dan penerima wewenang serta menjamin proses penyelenggaraannya benar-benar bergerak sejalan dengan aspirasi masyarakat  yaitu tidak menyimpang dari prinsip-prinsip etika, aturan penyelenggaraan satuan pendidikan, hokum, dan konstitusi Negara.

3.     Mengembangkan sikap demokrasi.
Kepemimpinan yang efektif harus memiliki seorang pemimpin yang mengembangkan sikap demokratis. Menurut  kamus besar bahsa Indonesia (1996)mengemukakan demokrasi adalah gagsan atau pandangan hidup yang mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama atau menjamin kemerdekaan dan persamaan mengemukakan pendapat sebagai satu keseluruhan yang utuh. Factor partisipasi sangat kuat pengaruhnya dalam mencapai kesuksesan tugas seorag pemimpin, semakin banyak partisipasi bawahan dalam suatu kegiatan semakin besar dan dinamis kehidupan kondisi organisasi tersebut.

4.    Visioner
Kepemimpinan efektif harus visioner. Menurut Paters dan Austin (1986) mengemukakan bahwa setiap institusi memerlukan pemimpin yang memiliki visi dan misi atau disebut dengan visioner, dekat dengan pelanggan atau masyarakat yang membutuhkan jasa organisasi pendidikan, memiliki gagasan inovativ yang lua, familiar dan mempunyai semangat kerja yang tinggi.(Sallis,1992). Tidak semua tujuan disebut visi. Visi adalah gmabran keadaan sesuatu hal dalam suatu waktu mendatang dapat menjadi kenyataan yang mengandung cita-cita, nilai, semangat motivasi, niat yang jelas, wawasan dan keyakinan.

5.    Perduli terhadap pembaharuan
Kepemimpinan yang efektif juga perduli tentang pembaharuhan. Keperdulian memberi gambaran bahwa seorang pemimpin cepat bereaksi, tanggap dan mrespon terhadap hal-hal yang dipandang member konstribusi terhadap kualitas institusi yan dipimpinya sebagai bagian dari pembaharuan. Pemimpin yang perduli dalam manajemen pendidikan, memeahami betul bahwa manajemen pendidikan tidak terlepas dari pembaharuan yaitu tuntuan perkembangan ilmu pengetahuan merupakan bagian dari dinamika pendidikan. Akibat dar pembaharuan dan perkembangan ilmu pengetahuan itu menumbuhkan konsekwensi tersendiri bagi pemimpin sebagai pemegang kendali pendidikan.


Kesimpulan

Pengertian kepemimpinan adalah suatu kegiatan mempengaruhi orang lain agar orang tersebut mau bekerja sama (mengkolaborasi dan mengelaborasi potensinya) untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Ada tiga gaya kepemimpinan  yaitu; otokratris, demokratis, dan kendali bebas. Selain itu, gaya kepemimpinan berdasarkan hubunganya dengan bawahan yaitu gaya dengan orientasi tugas dan orientasi karyawan. Gaya kepemimpinan yang ideal adalah menggunakan gaya yang ada sebaik mungkin pada situiasi  yang mendukung dan memenuhi kebutuhan kinerja kepemimpinan itu sendiri. Hal ini berarti situasilah yang mungkin menentukan gaya apa yang digunakan, karenanya tidak mungkin menerapkan satu gaya secara konsisten.
Tipe kepemimpinan dari seorang pemimpin yaitu tipe kepemimpinan pribadi (personal ledaership), tipe kepimimpinan non pribadi (non personal leader), tipe kepemimpinan otoriter (autoritorum leadership), tipe kepemimpinan demokratis (democratis leadership), dan tipe kepemimpinan paternalis (paternalis leadership)
Kaitannya kepemimpinan pendidikan yang efektif yaitu pemimpin yang memberikan dasar dan menempatkan tujuan pada posisi penting untuk merubah norma-norma dalam program pembelajaran, meninkatkan produktivitas, dan mengembangkan pendekatan-pendekatan kreaif untuk memperoleh hasil yang maksimal dari program institusi pendidikan.
Kepemimpinan yang ideal dan cocok diterapkan bagi bangsa ini bahkan telah ditemukan dan disusun sejak lama oleh Ki Hajar Dewantara melalui tiga filosofi singkatnya, yaitu Ing ngarsa sung tuladha. Ing madya mangun karsa. Tut wuri handayani.

*Aris Priyanto Pengawas Madya Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta
Daftar Pustaka
Http//www.Kepemimpinan.com. 7 Maret 2014: 04.45 am
Maman Ukas, Manajemen Konsep, Prinsip, dan Aplikasi, (Bandung : Ossa Promo, 1999).
M. Ngaliman Purwanto. Administrasi dan Supevisi Pendidika. (Bandung: PT Remaja   
        Rosdakarya. 1995), hlm. 27
Sudarwan. 2008. Visi Baru Manajemen Sekolah. Jakarta : Bumi Aksara
Triantoro. 2004. Kepemimpinan. Yogyakarta : Graha Ilmu
Wahab, Abd dan Umiarso. 2010. Spiritual Qoutient (SQ) dan Educational Leadership.
       Jember : Pena Salsabila

  

PERMAINAN TRADISIONAL SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN GERAK ANAK USIA DINI



PERMAINAN TRADISIONAL SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN 
GERAK ANAK USIA DINI
Oleh: Aris Priyanto*
Abstrak
     Penyelenggaraan pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) berdasarkan Peraturan Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 5 Tahun 2011, tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan Berbasis Budaya menyatakan bahwa metoda pembelajaran yang digunakan dalam PAUD dilakukan dengan cara belajar dan bermain dengan mengedepankan pendidikan berbasis budaya sebagai salah satu sumber pembelajaran anak.
Pendahuluan
     Di tangan anak-anak, kertas menjelma perahu Sinbad yang tak takluk pada gelombang, menjelma burung yang jeritnya membukakan kelopak-kelopak bunga di hutan; di mulut anak-anak, kata menjelma Kitab Suci. "Tuan, jangan kau ganggu permainanku ini."
Cuplikan puisi “Di Tangan Anak-Anak” oleh Sapardi Djoko Darmono
     Cuplikan bait sajak di atas selaras dengan Penyelenggaraan Pendidikan di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) berdasarkan Peraturan Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 5 Tahun 2011, tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan Berbasis Budaya Pasal 1 Butir 13 bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 (enam) tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Hal ini mengandung arti bahwa metoda pembelajaran yang digunakan dalam PAUD dilakukan dengan cara belajar dan bermain dengan mengedepankan pendidikan berbasis budaya sebagai salah satu sumber pembelajaran anak.
     Proses pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), khususnya Taman Kanak-kanak, dewasa ini telah menimbulkan permasalah. Hal ini disebabkan oleh pola pembelajaran yang dilaksanakan cenderung berorientasi akademik yaitu pembelajaran yang menekankan pada pencapaian kemampuan anak dalam membaca, menulis dan berhitung. Padahal pembelajaran yang dilakukan pada PAUD adalah untuk mengembangkan berbagai potensi pada anak seperti fisik, kognitif, bahasa, dan sosio-emosional. Kecenderungan tersebut disebabkan antara lain oleh pemahaman yang keliru terhadap konsep pembelajaran awal pada PAUD.
     Anak usia dini adalah sosok individu yang sedang menjalani suatu proses perkembangan dengan pesat dan sangat fundamental bagi kehidupan selanjutnya (Sofia Hartati: 2005: 1). Karena begitu pentingnya dasar pendidikan pada anak usia dini, maka pembelajaran pada PAUD seyogyanya memperhatikan beberapa prinsip belajar seperti berangkat dari apa yang dibawa anak, belajar harus menantang bagi anak, belajar sambil bermain dengan mengedepankan pendidikan berbasis budaya, penggunaan alam sekitar sebagai sumber belajar, belajar membekali keterampilan hidup, belajar sambil melakukan.
     Layanan pembelajaran untuk PAUD dapat diberikan melalui permainan tradisional yang disesuaikan dengan perkembangan dan pertumbuhan anak. Karena di dalam permainan tradisional terkandung nilai-nilai  kreatifitas, terapi, dan mengembangkan kecerdasan majemuk anak.
     Untuk anak usia dini permainan tradisional bisa diberikan melalui pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan (Penjasorkes) di kelompok bermain dan Taman Kanak-kanak karena Penjasorkes merupakan proses pendidikan melalui penyediaan pengalaman belajar kepada peserta didik berupa aktivitas jasmani, bermain, dan berolahraga yang direncanakan secara sistematis guna merangsang pertumbuhan dan perkembangan fisik, organik, keterampilan motorik, keterampilan berfikir emosional, sosial dan moral. Pembekalan pengalaman belajar itu diarahkan untuk membina sekaligus membentuk gaya hidup sehat dan aktif sepanjang hayat.
Pembahasan
Pengertian Pembelajaran Anak Usia Dini
     Pembelajaran pada anak usia dini merupakan proses interaksi antara anak, orang tua atau orang dewasa lainnya dalam suatu lingkungan untuk mencapai tugas perkembangan. Interaksi yang dibangun tersebut merupakan faktor yang mempengaruhi tercapainya tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Vigotsky (Berk, 1994) berpendapat bahwa pengalaman interaksi sosial merupakan hal yang penting bagi anak. Pembelajaran akan menjadi pengalaman yang bermakna bagi anak jika anak dapat melakukan sesuatu atas lingkungannya.
     Pada hakekatnya anak belajar sambil bermain, oleh karena itu pembelajaran pada anak usia dini pada dasarnya adalah bermain. Sesuai dengan karakteristik anak usia dini yang bersifat aktif dalam melakukan berbagai eksplorasi terhadap lingkungannya, maka akitvitas bermain merupakan bagian dari proses pembelajaran. Pembelajaran diarahkan pada pengembangan dan penyempurnaan potensi kemampuan majemuk. Untuk itu pembelajaran pada PAUD harus dirancang dan menggunakan sumber belajar yang tidak membebani serta membosankan anak. Agar suasana belajar tidak memberikan beban dan membosankan anak, sumber belajar dan suasana belajar perlu dibuat secara alami, hangat, dan menyenangkan. Aktivitas bermain (playful activity) yang memberikan kesempatan pada anak untuk berinteraksi dengan teman dan lingkungannya merupakan hal yang diutamakan.
     Agar anak dapat mencapai tahapan perkembangan yang optimal, maka proses pembelajaran yang dilakukan harus memenuhi prinsip-prinsip pembelajaran sebagai berikut: 1) Berangkat dari yang dimiliki anak; setiap anak membawa segala pengetahuan yang telah dimilikinya terhadap pengalaman-pengalaman barunya. 2) Belajar harus menantang pemahaman anak; proses belajar pada anak usia dini dapat terjadi dalam dua arah, dari yang umum yang khusus dari yang sederhana ke yang komplek. Oleh karena itu untuk memastikan terjadinya pengembangan pada anak, aktivitas pembelajaran yang dirancang harus menantang anak untuk mengembangkan pemahaman sesuai dengan apa yang dialaminya. 3) Belajar dilakukan sambil bermain; belajar pada anak usia dini adalah bermain. Melalui bermain dapat memberi kesempatan bagi anak untuk bereksplorasi, menemukan, mengekpresikan perasaan, berkreasi, dan belajar secara menyenangkan. 4) menggunakan alam sebagai sarana pembelajaran; alam merupakan sarana yang tidak terbatas bagi anak untuk berekplorasi dan berinteraksi dalam pembangunan pengetahuannya. 5) belajar dilakukan melalui sensorinya; anak memperoleh pengetahuan melalui sensori alian inderanya yaitu peraba, pencium, pendengar, penglihatan dan perasa. 6) Belajar membekali keterampilan hidup; pembelajaran pada hakekatnya membekali anak untuk memiliki keterampilan hidup. 7) Belajar sambil melakukan; pendidikan hendaknya megarahkan anak untuk menjadi pebelajar yang aktif. (Sofia Hartati, 2005: 30-35). 
Sumber belajar
     Tarkleson dalam Cucu Eliyati (2005: 26) mengatakan bahwa sumber belajar adalah segala sesuatu yang dipergunakan untuk kepentingan pelajaran yaitu segala apa yang ada di sekolah dan lingkungannya pada masa lalu, sekarang dan masa yang akan datang. Selanjutnya Association for Educational Coommunikation and Tecnology (AECT) memberikan batasan sumber belajar sebagai segala sesuatu yang berupa pesan, manusia, material (media-software), peralatan (hardware), teknik (metode), dan lingkungan yang digunakan sendiri-sendiri maupun dikombinasikan untuk memfasilitasi terjadinya kegiatan belajar.
Pemahaman yang mendalam tentang proses pembelajaran pada PAUD dari pendidik diperlukan agar para pendidik mampu merencana, mengembangkan, dan menggunakan sumber belajar dan bentuk-bentuk permainan untuk kepentingan pembelajaran PAUD. Sumber belajar dan bentuk-bentuk permainan yang digunakan dapat dipilih dari permainan-permainan tradisional yang ada  di sekitar lingkungan sekolah.


Permainan tradisional
Yogyakarta memiliki kekayaan budaya yang amat bernilai termasuk permainan tradisional. Permainan tradisional merupakan simbolik dari pengetahuan yang turun temurun dan mempunyai bermacam-macam fungsi atau pesan dibaliknya, di mana pada prinsipnya permainan anak tetap merupakan permainan anak. Dengan demikian bentuk atau wujudnya tetap menyenangkan dan menggembirakan anak karena tujuannya sebagai media permainan.
Supriyadi (2002; 4) menjelaskan bahwa Bruner dan Danalson dari telaahnya menemukan bahwa sebagian pembelajaran terpenting dalam kehidupan diperoleh dari masa kanak-kanak yang paling awal, dan pembelajaran itu sebagian besar diperoleh dari bermain. Melalui permainan tradisional, anak-anak juga dapat mengembangkan semua potensinya secara optimal, baik potensi fisik yang berhubungan dengan kecerdasan gerak-kinestetik, mental intelektual dan spiritual. Oleh karena itu, melalui permainan tradisional bagi anak usia dini merupakan jembatan berkembangnya semua aspek. Adapun manfaat dari permainan tradisional adalah:
1.    Anak menjadi lebih kreatif
Permainan tradisional biasanya dibuat langsung oleh pemainnya. Menggunakan barang-barang, benda-benda, atau tumbuh-tumbuhan yang ada di lingkungan sekitar. Hal ini mendorong anak lebih kreatif menciptakan alat-alat permainan. Selain itu, permainan tradisional tidak memiliki aturan secara tertulis. Biasanya, aturan yang berlaku, selain aturan yang sudah biasa digunakan, ditambah dengan aturan aturan yang disesuaikan dengan kesepakatan para pemain. Di sini juga juga terlihat bahwa pemain dituntut untuk kreatif menciptakan aturan-aturan yang sesuai dengan keadaan mereka.
2.    Dapat digunakan sebagai terapi kepada anak
Saat bermain, anak-anak akan melepaskan emosinya. Mereka berteriak, tertawa, dan bergerak. Kegiatan semacam ini dapat digunakan sebagai terapi untuk anak-anak yang memerlukan kondisi tersebut.
3.    Mengembangkan kecerdasan majemuk anak, yaitu kecerdasan; intelektual, emosional dan personal, gerak, natural, spasial, musikal dan spiritual
Adapun permainan tradisional Yogyakarta yang akan dibahas penulis adalah permainan tradisional yang lebih banyak menggunakan aktivitas fisik, diantaranya:
1.    Gotri Legendri
Anak anak bermain melingkar, jongkok di tanah. Mereka saling menggilirkan batu ke sebelahnya sambil menyanyikan lagu. Gotri legendri nogosari thiwul uwal awul jadah mbantul. Dolan awan awan nggolek kodok titenana besok gedhe dadi apa apadha mbako enak mbako sedhep dhempo ewa ewo kaya kodok. Kemudian, yang mendapatkan batu terakhir dia jadi kodok (menirukan gerakan katak melompat).
2.    Tawonan
Permainan berkelompok, dimainkan dengan membuat lingkaran besar di tanah tempat memenjarakan pemain lawan yang tertangkap.
3.    Udan Barat
Permainan menggunakan gacuk, bisa dari pecahan tegel atau kereweng. Dimainkan dengan melemparkan batu ke garis, yang paling dekat dengan garis dia yang mulai main. Gacuk dipasang di kaki, kemudian orang berjalan jingkat jingkat dengan gacuk terpasang disatu kaki.Yang kalah menggendong yang menang, dari garis ke garis
4.    Jamuran
Dimainkan berkelompok beramai ramai bergandengan tangan melingari seorang di tengah, sambil menyanyikan lagu lagu. Jamuran, yo ge gethok, jamur apa, yo ge gethok, semprat semprit jamur apa? lalu pemain yang ditengah menyebutkan sesuatu, seperti: Jamur parut, maka pemain yang melingkar harus mengangkat kakinya untuk dikili kitik dengan kereweng, jika tertawa maka dia jadi yang ditengah Jamur kendhil borot, semua pemain harus kencing (wakakakakkaakakaka marahi kemekelen) dan jamur jamur lainnya.
5.    Ancak-ancak Alis
Permainan yang juga dimainkan beramai ramai. Dua orang anak menggabungkan kedua tangan mereka dan diangkat tinggi.  Anak-anak yang lain membuat rangkaian satu persatu memasuki melewati kedua anak tadi, sambil menyanyikan lagu. Ancak-ancak alis, si alis kabotan kidang anak-anak kebondungkul si dhungkul.
6.    Dhingklik Oglak Aglik.
Permainan dimainkan dengan saling mengaitkan salah satu kaki ke kaki teman dalam sebuah lingkaran kecil dengan kaki lain bertumpu di tanah dan melakukan gerakan berjalan seperti berjingkat bersama. Masing-masing tangan pemain memegang pundak atau tangan pemain lainnya.
7.    Cublak-cublak suweng
Satu orang diminta melakukan posisi seperti orang bersujud, ndhekem. Kemudian empat atau lima anak lainnya bermain menggilirkan sebuah kerikil di tangan mereka. Setelah selesai, anak yang ndhekem tadi menebak kerikil di tangan siapa. Cublak cublak suweng, suwenge ting gelenter, mambu ketundhung gudel pak gemppng lela legung sapa ngguyu ndhelikake sirpon dhele kosong sir, sirpong dhele kosong.
8.    Petak Jongkok
Dimainkan oleh banyak anak dan tidak memerlukan alat bantu. Tentukan satu orang yang akan mengejar, setiap anak boleh jongkok. Bila jongkok berarti dia tidak dapat disentuh oleh pengejar. Anak yang berdiri dapat membangunkan anak yang jongkok. Tetapi anak yang terakhir jongkok berarti akan menjadi pengejar menggantikan pengejar yang lama. Begitu juga dengan anak yang tidak jongkok namun berhasil disentuh oleh pengejar akan menjadi pengejar selanjutnya.
9.    Engklek
Pemain harus mengangkat satu kaki dan melompat dengan satu kaki melewati kotak-kotak dalam engklek. Permainan ini membutuhkan gacon (bisa pecahan genting atau sejenisnya) untuk dilempar. Dalam tingkatan yang lebih tinggi pemain harus membawa gacon di atas telapak tangan dan menaruh di atas kepala sambil sambil melompat dengan satu kaki. Ada beberapa variasi dalam hal aturan permainan dan prosedur engklek. Variasi ini juga terjadi dalam bentuk engklek yang berbeda misalnya engklek gunung, engklek tangga, engklek lingkaran.
Permainan tradisional sebagai sumber pembelajaran gerak
Menurut Skinner dalam Sofia Hartati (2005: 24) beranggapan bahwa perilaku manusia yang dapat diamati secara  langsung adalah akibat konsekuensi dari perbuatan sebelumnya. Kalau konsekuensinya menyenangkan maka hal itu akan diulangi lagi. Hal, tersebut sejalan dengan permainan tradisional yang prosesnya sangat digemari anak-anak.
Dalam permainan Gotri legendry, stimulasi gerak terjadi pada saat anak mengilirkan/memindahkan batu secara estafet kesebelahnya sambil bernyanyi ini dibutuhkan konsentrasi tinggi, jongkok di tanah dan gerakan melompat menirukan gerakan katak (kodok). Dalam permainan ini koordinasi mata-tangan, mata-kaki dan keterampilan lokomotor serta keterampilan non lokomotor berjalan.
     Tawonan; Stimulasi gerak terjadi pada saat anak membuat lingkaran menaksir secara visul dengan memenjarakan teman. Dalam hal ini keterampilan koordinasi berjalan.
     Udan barat; Stimulasi gerak terjadi pada saat menggunakan gacuk, melemparkan batu ke garis, memasang gacuk di kaki, berjalan, jingkat jingkat dengan gacuk terpasang disatu kaki, dan menggendong. Keterampilan koordinasi, keterampilan lokomotor dan non lokomotor, kemampuan mengatur dan mengontrol tubuh berjalan.
     Jamuran; Stimulasi gerak terjadi pada saat beramai ramai bergandengan tangan membuat lingkaran menyanyikan lagu lagu, mengangkat kakinya untuk dikili kitik dengan kereweng.
     Ancak-ancak Alis; Stimulasi gerak terjadi pada saat anak menggabungkan kedua tangan mereka dan mengangkat tangan tinggi, anak membuat rangkaian satu persatu memasuki melewati kedua anak tadi, sambil menyanyikan lagu.
     Dhingklik Oglak Aglik; Stimulasi gerak terjadi pada saat anak saling mengaitkan salah satu kaki ke kaki teman dalam sebuah lingkaran kecil dengan kaki lain bertumpu di tanah dan melakukan gerakan berjalan seperti berjingkat bersama.
     Cublak-cublak Suweng;  Stimulasi gerak terjadi pada saat anak melakukan posisi seperti orang bersujud (ndhekem), empat atau lima anak lainnya bermain menggilirkan sebuah kerikil ditangan mereka. Anak menebak kerikil di tangan siapa.
     Petak Jongkok; Dimainkan oleh banyak anak dan tidak memerlukan alat bantu. Stimulasi gerak terjadi pada saat anak mengejar, jongkok. anak membantu membangunkan anak yang jongkok.
     Engklek Stimulasi gerak terjadi pada saat anak mengangkat satu kaki dan melompat dengan satu kaki melewati kotak-kotak dalam engklek, melempar.
     Secara umum permainan-permainan tradisional di atas memuat unsur-unsur gerak koordinasi, keterampilan lokomotor, keterampilan non lokomotor, dan kemampuan mengontrol serta mengatur tubuh, sehingga dapat merangsang terhadap kecerdasan gerak-kinestik  anak, yang pada akhirnya membantu perkembangan dan pertumbuhannya. Jadi, tidak ada alasan bagi pendidik, tidak bisa melaksanakan pembelajaran dengan materi permainan tradisional karena jelas-jelas permainan tradisional mempunyai banyak kelebihan dibandingkan dengan permainan modern.   
Penutup
     Permainan tradisional sebagai sumber belajar dapat mempermudah dalam pembelajaran gerak pada anak usia dini, proses pembelajarannya dapat digunakan di dalam pemanasan, inti, ataupun penenangan. Selain itu permainan tradisional juga memenuhi prinsip-prinsip belajar pada anak usia dini, yaitu; berangkat dari yang dimiliki anak, harus menantang pemahaman anak, dilakukan sambil bemain, menggunakan alam sebagai sarana pembelajarannya, dilakukan melalui sensorinya, membekali keterampilan hidup, dan belajar sambil melakukan.
     Permainan tradisional yang termasuk di dalam pembelajaran penjasorkes, akan memberikan dasar-dasar gerak yang komplit pada anak usia dini, sehingga dikemudian hari pertumbuhan dan perkembangan anak akan berjalan optimal selaras, serasi dan seimbang antara jiwa dan raga sebagai satu kesatuan yang utuh.

*Aris Priyanto, Pengawas SMA, Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta

Daftar Pustaka
Catron, Carol E. & Allen, Jan (1999). Early Childhood Curriculum A creative-Play Modell. New Jersey: Prentice-Hall.

Eliyawati, S. (2005) Pemilihan dan Pengembangan Sumber Belajar Untuk Anak Usia Dini. Depdiknas Dikti, Jakarta.

Direktorat Tenaga Teknis.  (2003). Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Usia 0 – 6 Tahun, Jakarta: PT   Grasindo.

Hartati, S. (2005). Perkembangan Belajar pada Anak Usia Dini. Depdiknas Dirjen Dikti. Jakarta
Hurlock, Elizabeth B. Psikologi Perkembangan, terjemahan Istiwidayanti dan Soejarwo. Jakarta:  Erlangga, 1996

Musfiroh, T. (2008). Cerdas Melalui Bermain, Jakarta: PT Grasindo

Supriyadi, D. (2001). Kreativitas Kebudayaan & Perkembangan Iptek, Bandung: Alfabeta